Kamis, 09 Januari 2014

Sosiologi sosialisasi



Sosialisasi selain sebagai proses belajar dan mewariskan suatu kebudayaan dari satu generasi ke generasi berikutnya, juga sebagai sarana untuk mengembangkan diri sendiri yang berarti membangun diri sendiri untuk membentuk kepribadiannya.

Dalam sosialisasi dikenal dua macam pola sosialisasi, yaitu sosialisasi represif (repressive socialization) dan sosialisasi partisipatif (partisipatory socialization).


a. Sosialisasi Represif

Di masyarakat seringkali kita melihat ada orang tua yang memberikan hukuman fisik pada anak yang tidak menaati perintahnya. Misalnya memukul anak yang tidak mau belajar, atau mengunci anak di kamar mandi karena berkelahi dengan teman.

Contoh ini merupakan salah satu bentuk sosialisasi represif yang ada di sekitar kita. Dari contoh tersebut dapatkah kamu menyimpulkan apa sebenarnya sosialisasi represif itu? Sosialisasi represif merupakan sosialisasi yang lebih menekankan penggunaan hukuman, terutama hukuman fisik terhadap kesalahan yang dilakukan anak.

Adapun ciri-ciri sosialisasi represif di antaranya adalah sebagai berikut.
1) Menghukum perilaku yang keliru.
2) Adanya hukuman dan imbalan materiil.
3) Kepatuhan anak kepada orang tua.
4) Perintah sebagai komunikasi.
5) Komunikasi nonverbal atau komunikasi satu arah yang berasal dari orang tua.
6) Sosialisasi berpusat pada orang tua.
7) Anak memerhatikan harapan orang tua.
8) Dalam keluarga biasanya didominasi orang tua.

Sosialisasi represif umumnya dilakukan oleh orang tua yang otoriter. Sikap orang tua yang otoriter dapat menghambat pembentukan kepribadian seorang anak. Mengapa? Anak tidak dapat membentuk sikap mandiri dalam bertindak sesuai dengan perannya. Seorang anak yang sejak kecil selalu dikendalikan secara berlebihan oleh orang tuanya, setelah dewasa ia tidak akan berani mengembangkan diri, tidak dapat mengambil suatu keputusan, dan akan selalu bergantung pada orang lain. Kata-kata ‘harus’, ‘jangan’, dan ‘tidak boleh ini dan itu’ akan selalu terngiang-ngiang dalam pikirannya.

b. Sosialisasi Partisipatif

Pola ini lebih menekankan pada interaksi anak yang menjadi pusat sosialisasi. Dalam pola ini, bahasa merupakan sarana yang paling baik sebagai alat untuk membentuk hati nurani seseorang dan sebagai perantara dalam pengembangan diri. Dengan bahasa, seseorang belajar berkomunikasi, belajar berpikir, dan mengenal diri.

Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa sosialisasi partisipatif memiliki ciri-ciri antara lain sebagai berikut.
1) Memberikan imbalan bagi perilaku baik.
2) Hukuman dan imbalan bersifat simbolis.
3) Otonomi anak.
4) Interaksi sebagai komunikasi.
5) Komunikasi verbal atau komunikasi dua arah, baik dari anak maupun dari orang tua.
6) Sosialisasi berpusat pada anak.
7) Orang tua memerhatikan keinginan anak.
8) Dalam keluarga biasanya mempunyai tujuan yang sama.
2. Media Sosialisasi Teman Sepermainan
Peran positif dari kelompok persahabatan bagi perkembangan kepribadian anak adalah berikut,
a. Remaja merasa aman dan merasa dianggap penting dalam kelompok persahabatan
b. Remaja dapat tumbuh dengan baik dalam kelompok persahabatan
b. Remaja dapat tumbuh dengan baik dalam kelompok persahabatan
c. Remaja mendapat tempat yang baik bagi penyaluran rasa kecewa, takut, khawatir, tertekan, gembira, dan sebagainya yang mungkin tidak didapatkan di rumah
d. Remaja dapat mengembangkan keterampilan sosial yang berguna bagi kehidupannya kelak
e. Remaja dapat bersikap lebih dewasa karena pada umumnya kelompok persahabatan mempunyai pola perilaku dan kaidah tertentu.
Disamping peranan positif, ada peranan negatif, misalnya kelompok persahabatan yang dinamakan geng atau klik. Geng adalah kelompok sosial yang mempunyai kegemaran berkelahi atau membuat keributan. Klik adalah kelopok kecil tanpa struktur formal yang anggotanya mempunyai pandangan atau kepentingan sama.
.
3. Media Sosialisasi Sekolah
Fungsi pendidikan sekolah sebagai media sosialisasi adalah sebagai berikut,
a. Mengembangkan potensi anak untuk mengenal kemampuan dan bakatnya
b. Melestarikan kebudayaan dengan cara mewariskan dari generasi satu ke generasi selanjutnya
c. Merangsang partisipasi demokrasi melalui pengajaran keterampilan berbicara dan mengembangkan kemampuan berfikir secara rasional dan bebas
d. Memperkaya kehidupan dengan menciptakan cakrawala intelektual dan citarasa keindahan kepada para siswa
e. Meningkatkan taraf kesehatan melalui pendidikan olahraga dan kesehatan
f. Mendapatkan warga negara yang mencintai tanah air serta menunjang integritas antarsuku dan antarbudaya
g. Mengadakan hiburan umum (pertandingan olahraga atau kesenian).
Untuk mencapai tujuan tersebut, sekolah memiliki dua jenis kurikulum,
1. Kurikulum nyata (real curricullum), membuat sejumlah mata pelajaran yang disampaikan di sekolah.
2. Kurikulum tersembunyi (hidden curricullum), berupa aturan-aturan sopan santun, cara berpakaian yang rapi, penghargaan terhadap waktu (kedisiplinan) dan berpikir serta bersikap sistematis.
.
4. Media Sosialisasi Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja juga mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan kepribadian seseorang. Dilingkungan kerja, seseorang akan berinteraksi dengan teman sekerja, pemimpin, dan relasi bisnis. Dalam proses interasi akan terjadi proses saling memengaruhi. Pengaruh-pengaruh itu akan menjadi bagian dari dirinya.
.
5. Media Massa sebagai Media Sosialisasi
Media massa terdiri atas media cetak (surat kabar dan majalah) dan media elektronik (radio, televisi, video, film, piringan hitam, dan kaset). Media itu merupakan alat komunikasi yang dapat menjangkau masyarakat secara luas. Media massa diidentifikasikan sebagai media sosialisasi yang berpengaruh pula terhadap perilaku masyarakat.

3 komentar: